Propertypreneur

Menjadi Entrepreneur dalam Bidang Property

Waktu yang Terbuang di Jalan Saat Kerja

Sekarang kami akan bahas tentang Waktu yang Terbuang di Jalan saat Kerja. Sejak lima tahun silam, Pak Andi tinggal di Cibubur. Dia bekerja di kawasan Hayam Wuruk. Istrinya bekerja di Kelapa Gading. Karena jarak menuju tempat kerja yang jauh, setiap hari ia dan istrinya harus bangun jam setengah lima pagi.

Waktu yang Terbuang di Jalan Saat Kerja

Setelah mandi, berpakaian dan sarapan, satu jam kemudian mereka berdua meluncur mengendarai mobilnya. Ia lebih dulu mengantar istrinya ke kantor, kemudian meluncur ke kantornya sendiri. Perlu waktu tiga jam bagi Pak Andi untuk mencapai kantornya. Ada sejumlah titik kemacetan yang membuatnya frustrasi. Tapi, lantaran dijalani tiap hari, semuanya jadi biasa.

Jam lima sore, pekerjaannya selesai. Ia pun mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir. Astaga, jalanan macet total. Tapi Pak Andi tidak kaget. Setiap hari ia mengalaminya. Dengan sabar ia menunggu antrean mobil di depannya, memasuki jalan raya, dan terus mengemudi. Ia menjemput istrinya, kemudian menuju arah pulang. Baru tiga jam kemudian ia parkir mobil di carport rumahnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah mandi dan tukar pakaian, Pak Andi menengok anak-anaknya sebentar. Mereka sedang belajar. Jam sembilan malam ia baru bisa menikmati santap malam bersama istrinya. Sejam kemudian, ia beristirahat. Jam setengah lima pagi weker berbunyi kencang, dan Pak Andi kembali menjalani rutinitas hariannya. Rutinitas ini bisa menyebabkan banyak waktu yang terbuang di jalan saat kerja.

Estimasi Waktu Terbuang di Jalan

Berapa estimasi waktu yang terbuang di jalan saat kerja? Kalau dihitung Pak Andi dan pasangannya setiap hari buang waktu enam jam di jalan. Itu berarti 25% dari seluruh waktu yang dimilikinya. Jika ia menjalani “ritual” itu selama 12 tahun saja, maka waktu yang dibuang di jalan mencapai 3 tahun penuh!

Sungguh spektakuler! Sungguh sulit bagi kita membayangkan ada orang yang menyetir terus-menerus selama tiga tahun penuh! Tapi itulah yang terjadi. Itulah realitas. Hanya saja, kita sering tidak merasakannya.

Jika dijumlahkan dengan jam kerja ketika Pak Andi harus berada di kantor, waktu yang “terbuang” mencapai 15 jam. Dikurangi waktu istirahat (karena rutinitas seperti itu membutuhkan energi luar biasa) berapa waktu Pak Andi yang tersisa untuk keluarganya? Hanya dua jam!

Kalau saja Pak Andi bisa mengurangi jam perjalanannya pulang balik ke kantor ia bisa menghemat waktu yang terbuang di jalan. Dan juga bisa menambah waktu untuk keluarga. Tapi, Pak Andi merasa tak punya pilihan. Bisa saja ia tinggal di kota Banyak apartemen dan kondominium yang berlokasi di pusat kota. Tapi gajinya hanya Rp 4 juta. Tak mungkin ia memiliki apartemen kelas menengah yang harganya Rp 500 juta ke atas.

Bagaimana dengan kos? Impossible. Pak Andi sudah memiliki dua anak masing-masing berumur empat dan dua tahun. Kamar kos sangat sempit. Jika keluarga Pak Andi mengontrak rumah biayanya mahal. Sangat mungkin, biayanya per bulan melebihi beban angsuran rumahnya di bilangan Cibubur.

Gaya Hidup 1990-an

Pola hidup seperti keluarga Pak Andi adalah pilihan yang diambil kebanyakan orang dimana banyak waktu yang terbuang di jalan. Gejala itu terjadi terutama pada tahun 1990-an. Lokasi hunian semakin melebar ke wilayah pinggiran. Kelas menengah ke bawah yang bekerja di pusat kota, sudah tak bisa menjangkau perumahan di perkotaan. Harganya membubung setinggi langit. Karena memaksakan diri memiliki rumah sendiri (tak salah memang, karena mereka sudah berkeluarga), mereka terpaksa tinggal di pinggiran.

Pak Andi ambil pilihan yang biasa diambil kebanyakan orang yaitu tinggal di pinggiran kota. Ia mencari perumahan yang harganya masih terjangkau. Ditambah penghasilan istrinya yang sama-sama pekerja kantoran, pasangan itu memiliki joint income Rp 7 juta kurang sedikit. Dengan anggaran ketat, mereka bisa menyisihkan Rp 2 jutaan untuk angsuran rumah. Untung saja mobil Jepang keluaran tahun 2000 itu sudah lunas angsurannya.

Waktu yang terbuang di jalan saat kerja bisa dipangkas. Tapi ternyata, pilihan yang diambil Pak Andi memunculkan sejumlah biaya. Yaitu jarak tempuh yang lebih jauh untuk menuju kantor. Itu berarti waktu perjalanan yang lebih lama, konsumsi bahan bakar yang lebih banyak biaya tol dan biaya perawatan kendaraan.

Tentu saja-waktu yang lebih banyak terbuang. Membuang waktu lebih banyak di jalanan, berarti emisi karbon lebih besar. Juga pikiran yang penat dan kaki yang pegal, karena ia masih menggunakan mobil manual. Energi terkuras habis di jalanan, sehingga ia tidak optimal lagi ketika harus berinteraksi dengan anak-anaknya di malam hari. Ia nyaris tak bisa menyaksikan anaknya tumbuh besar. Nyaris 24 jam anak-anak itu diasuh oleh pembantu. Seperti kebanyakan orang lainnya, Pak Andi lupa menghitung biaya-biaya itu.

Demikian informasi berkaitan dengan Waktu yang Terbuang di Jalan saat Kerja, semoga artikel ini membantu kalian. Kami berharap artikel ini diviralkan agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi :

Apartemen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *