Propertypreneur

Menjadi Entrepreneur dalam Bidang Property

Kita Harus Kaya dan Menguasai Kekayaan

Pembahasan kita sekarang yaitu Kita Harus Kaya dan Menguasai Kekayaan. Menjadi kaya-raya adalah impian hampir semua orang. Beberapa asma Allah yang disematkan menjadikan manusia ingin berselendang kekayaan. Di antara asma Allah yang terkait kekayaan yaitu Ar-Rozzaq (Maha Memberi Rezeki), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan). Namun cara manusia meraihnya ternyata berona spektrum yang amat panjang. Mulai dari cara-cara yang halal sampai pada cara-cara yang syirik.

Kita Harus Kaya dan Menguasai Kekayaan

Pada zaman keemasan Islam, para sahabat menguasai kekayaan dengan motivasi terbaik, yaitu mengabdi kepada Sang Pencipta. Cuma itu. Dan tentu saja, rezeki yang mereka terirna, hanya yang halal saja. Ciri mereka terletak pada keteguhan dan kegigihan dalam berproduksi, namun sangat hemat dalam konsumsi. Dengan kata lain, produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, dan distribusi seluas-luasnya. Inilah zuhud yang benar. Bukan dengan ber-miskin-ria, lalu melegitimasi kemalasan dengan stempel zuhud.

Asal tahu saja, mahar yang biasa diberikan Nabi Muhammad adalah 12 uqiah dan 1 nash (500 dirham, sekitar Rp 30 juta). Ini dari Shahih Muslim 1426. Pernah juga Nabi Muhammad bersabda, terdapat empat perkara yang menyenangkan, yaitu istri yang sholihah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Ada pula, “Rumahku, surgaku”. Jelas sudah. Tidak ada yang salah dengan prinsip kita harus kaya, asalkan niat, cara, dan sikapnya benar.

Sejarah mencatat, bahwa Umar bin Khattab saat wafat meninggalkan ladang sebanyak 70 ribu unit, yang harga rata-rata ladangnya Rp 160 juta. Berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 triliun. Setiap tahun, ladangnya menghasilkan sekitar Rp 40 juta. Berarti Umar mendapatkan passive income sebanyak Rp 2,8 triliun setiap tahun, atau Rp 233 miliar sebulan! Subhanallah! Inilah sisi lain dari Umar yang jarang terungkap dan tersingkap! (dengan konversi dinar Rp 1,2juta). Kita harus kaya juga.

Dalam anjurannya terkait berproduksi, Umar berseru, “Aku wajibkan kepada kalian tiga bepergian, yaitu: berhaji serta berumrah, berjihad, dan mencari rezeki”. Bahkan ia juga rnenegaskan, “Tidaklah Allah menciptakan kematian yang aku meninggal dengannya, setelah terbunuh dalam jihad yang lebih aku cintai daripada aku meninggal di antara kedua kaki untaku ketika berjalan di muka bumi dalam mencari sebagian karunia Allah”.

Para Konglomerat Islam

Masih banyak atsar Umar yang lain, yang menganjurkan para sahabat termasuk kita yaitu kita harus kaya dan gemar berproduksi. Termasuk mengoptimalkan lahan nganggur. Namun coba kita lihat betapa Umar menganggap dirinya bermewahan jika makan lebih dari dua lauk dalam satu hidangan. Terlihat sudah, gaya konsumsinya sangat kontras dengan gaya produksinya. Dengan prinsip kekayaan seperti inilah akhirnya Islam mampu mencetak para konglomerat muslim, seperti :

  • Utsman bin Affan,
  • Amru bin Ash,
  • Muawiyyah,
  • Abdurrahman bin ‘Auf,
  • dan sahabat-sahabat yang lain.

Kita harus kaya dan mencontoh para sahabat nabi yang juga kaya. Mari kita lihat beberapa di antaranya:

1. Kekayaan Utsman bin ‘Affan

  • Simpanan tunai berupa 151 ribu dinar plus seribu dirham
  • Mewariskan properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar
  • Beberapa sumur dengan nilai 200 ribu dinar (Rp 240 M)

2. Kekayaan Zubair bin Awwam

  • 50 ribu dinar
  • 000 ekor kuda perang dan 1.000 orang budak

3. Kekayaan Amr bin Al-Ash

  • 300 ribu dinar

4. Kekayaan Abdurrahman bin Auf

  • Melebihi kekayaan sahabat lainnya

Bukan hanya para sahabat terdekat Nabi yang merasakan kekayaan yang luar biasa. Pada masa Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis, dapat kita lihat juga bagaimana kemakmuran menaungi hampir seluruh rakyat. Mu’adz bin Jabal menuturkan, di Yaman sampai-sampai kesulitan menemukan seorang fakir-miskin yang layak dizakati. Pemerintah pun mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar atau Rp 18 juta per bulan. Jadi kita harus kaya juga agar bisa berbagi.

Umar berkata, “Wahai ahli ibadah! Angkatlah kepalamu, karena jalan telah jelas. Berlombalah dalam kebaikan dan janganlah kamu menjadi beban bagi kaum muslimin”. Jika pada masa itu, umat Islam bisa sedemikian kayanya, prinsip hidup seperti apa yang mereka pegang teguh? Sejauh yang kami pelajari, maka nilai-nilai luhurlah yang mengarahkan mereka. Maka, jika mereka bisa kaya, kita pun bisa kaya seperti mereka. Insya Allah. Bahkan dalam beberapa literatur fikih ditegaskan bahwa umat Islam wajib untuk kaya.

Poin Penting Kekayaan

Sampai sejauh ini, kita harus kaya dan sudah sampai pada kesepakatan tentang beberapa hal:

  1. Yang Maha Kuasa menciptakan manusia dengan potensi cukup atau kaya, untuk seluruh manusia, tak terkecuali.
  2. Sumber daya untuk mengayakan manusia telah diciptakan, di mana itu cukup bahkan berlimpah.
  3. Islam adalah agama yang mengajarkan kekayaan dan mengajak semua untuk kaya, tak terkecuali.
  4. Khazanah Islam telah menoreh sejarah terbaik di mana pernah terjadi 100% orang itu cukup atau kaya. Era spiritualisme menjanjikan kekayaan bagi semua orang yang turut serta di dalamnya.
  5. Menjadikan semua orang kaya harus dengan cara terbaik, yaitu memuliakan manusia, bukan sebaliknya.
  6. Kekayaan di dunia bukan untuk berbangga diri dan terlena dengan kenikmatan semu, tapi untuk melayani dan menjaga alam sebagai tugas utama khalifah.
  7. Kekayaan hakiki hanya ada di akhirat berupa ridha-Nya dan surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Barangsiapa bertakwa pada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS 65: 2-3)

Demikian informasi tentang Kita Harus Kaya dan Menguasai Kekayaan, semoga postingan kali ini berguna buat Anda. Mohon postingan ini dibagikan biar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi :

Kaya dari Properti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *